Saat matahari menyapaku dari kaca
jendela kamarku di asrama tempat kami di didik. Aku lansung bergegas ke kamar
mandi. Saat di dalam kamar mandi, aku melihat tubuhku di kaca yang masih
berbalut pakaian. Aku berhayal jika aku seutuhnya menjadi seorang lelaki
seperti yang ayahku inginkan. Dan entahlah, aku mungkin tidak akan mendapatkan
hal itu.
Siang harinya, kami peserta didik
instansi tersebut di bawa kerumah sakit. Kami beranggotakan 10 orang wanita dan
salah satunya aku. Saat disana, dokter meminta kami tidur. Setelah itu aku
sudah tidak mengingat apa-apa lagi. Aku bangun seperti sedia kala. Namun, aku
merasa tubuhku memiliki kekuatan ekstra yang melewati ambang batas kekuatanku
sebagai seorang wanita.
Kami terus dilatih hari demi
hari, sampai –sampai tak terasa sudah 6 bulan kami di latih. Agar kami dapat
menjadi seorang astronot. Aku sudah berangan-angan jika aku berada di atas
sana, pasti aku juga lebih dekat dengan ayah dan ibuku yang telah pergi
mendahului aku. Bagiku, mereka itu seperti bintang yang selalu mengindahkan
langit dengan cahaya mereka. Mereka itu terangku, aku percaya dan yakin akan
hal itu bahwa itu benar.
Saat final kami di latih, dan
saat instansi tersebut ingin mengumumkan siapa yang hendak berangkat. Namun,
Nina malah membuat petaka dengan memukulku sampai babak belur. Dan salah
seorang dari instansi tersebut mendiskualifikasikan diriku. Saat itu, aku
merasa bahwa diriku sudah tidak berarti lagi. Aku akan jauh dari apa yang aku
impikan yaitu dekat dengan mereka yang telah mendahului aku.
15 maret 2001, aku memutuskan
untuk menjadi seorang pembantu rumah tangga dan sekolah tata karma agar
memiliki sikap yang baik dan menjadi wanita seutuhnya. Saat 17 april di tahun
yang sama, aku bertemu dengan seorang lelaki. Bagiku, dia tidak sempurna tetapi
dia memiliki kemiripan denganku. Dia tau apa yang aku pikirkan dan kita ketemu
dengan cara yang tidak di sengaja. Selang 3 bulan kami bertemu, kami menjalin
suatu hubungan spesial. Saat itu, aku terlalu bodoh. Dia hanya mempermainkanku
padahan apa yang aku miliki telah aku berikan untuknya. Hingga aku dikatakan
positif mengandung anaknya. Saat itu, aku berpikir bahwa lelaki itu seperti
pengecut yang hanya dapat menikmati dunia hingga kelebihan batas.
9 bulan 10 hari kemudian, akau
melahirkan anakku. Jujur, sebenarnya aku berharap anakku lahir dengan keadaan
memiliki orang tua yang lengkap. Namun, setelah ku pikir-pikir aku bisa menjadi
ibu sekaligus ayahnya. Karena, masa laluku yang bisa dikatakan hancur lebur
sudah. Setelah 2 minggu aku di rumah sakit, aku selalu bertanya pada susterku
“kapan aku dapat pulang bersama putriku ?” namun jawab suster itu “ silahakn
bertanya pada dokter sebab aku tidak mengetauhi apa yang terjadi denganmu “.
Itu menjadi tanda Tanya besar.
Sore harinya, aku meminta untuk
berbicara pada dokter yang merawatku. Lalu katanya mengejutkan aku, sebab di
berkata aku berkelamin ganda. Maka setelah pemeriksaan intensif, dokter melihat
bahwa hormone lelaki jauh lebih banyak pada diriku. Dan tim dokter memutuskan
untuk mengangkat ovarium dan buah dadaku. Lalu aku akan menjalani serangkaian
terapi dan meminum pil penumbuh hormone secara berkala. Sudah 3 bulan sudah aku
menjalani hidup sebagai lelaki pasca oprasiku. Dan lebih fatalnya, aku
kehilangan anakku saat oprasiku berlangsung. Para suster berkata, ayahnya telah
mengambilnya. Sedangkan bagiku, dia lahir tanpa ayah. Apa yang telah suster –
suster itu lakukan ? perasaaan itu hanya dapat ku pendam seorang diri.
Semenjak aku menjadi seorang
lelaki, aku merasa bahwa masalahku itu lebih dari pada yang aku rasakan saat
menjadi seorang wanita. Aku seakan di berikan 1001 tanggungan yang memberatkan
hidupku. Yang membuatku terjerumus dalam kehidupan bebas. Aku selalu mendatangi
club malam, melakukan kekerasan pada siapa saja. Aku merasa bahwa hidupku sudah
tak berarti lagi.
Aku banyak membuat wanita
menangis, dan hancur sama seperti hidupku di masa kelamku.
Tetapi, dengan mengalami hal itu, aku jadi mengerti saat aku
menjadi seorang perempuan, aku selalu bertanya-tanya :mengappa, sebagai
laki-laki, mereka tak menanggapi diri kita dengan perasaan lebih peka terutama
saat aku ditinggalkan. Sebenarnya, kita membuat luka lebih dalam pada diri
mereka sebagaimana yang telah aku alami. Saat aku menjadi wanita, aku
menyalahkan lelaki dan menghina lelaki karena sikap mereka yang kasar dan bisa
di bilang kurang ajar. Dan ternyata aku bukanlah satu-satunya yang merasa
seperti itu. Saat aku menjadi seorang lelaku, aku berasa di tengah-tengah
permasalahn itu sendiri. Lelaki melakukan kekerasan sebagai akibat kekerasan
yang ditujukaan pada diri mereka sendiri dan kerap menanganggap hal itu bukan
sebuah kesalahan, karena dengan melakukan hal itu akan memperlihatkan kecakapan
emosional yang sebagian besar sudah lama ditiadakan atau di larang untuk diekspresikan.
Dan kurasa ini adalah awal dari kehidupan baruku yang penuh
dengan pengertian
_Tamat_
Thx, paragrafnya juga uda dirapihkan makanya bagus :)
ReplyDeletesama - sama :)
ReplyDeletetrima kasih untuk tanggapannya :)
:)