Sunday, 15 May 2016

Between Man and Woman Part 2



Saat matahari menyapaku dari kaca jendela kamarku di asrama tempat kami di didik. Aku lansung bergegas ke kamar mandi. Saat di dalam kamar mandi, aku melihat tubuhku di kaca yang masih berbalut pakaian. Aku berhayal jika aku seutuhnya menjadi seorang lelaki seperti yang ayahku inginkan. Dan entahlah, aku mungkin tidak akan mendapatkan hal itu.
Siang harinya, kami peserta didik instansi tersebut di bawa kerumah sakit. Kami beranggotakan 10 orang wanita dan salah satunya aku. Saat disana, dokter meminta kami tidur. Setelah itu aku sudah tidak mengingat apa-apa lagi. Aku bangun seperti sedia kala. Namun, aku merasa tubuhku memiliki kekuatan ekstra yang melewati ambang batas kekuatanku sebagai seorang wanita.
Kami terus dilatih hari demi hari, sampai –sampai tak terasa sudah 6 bulan kami di latih. Agar kami dapat menjadi seorang astronot. Aku sudah berangan-angan jika aku berada di atas sana, pasti aku juga lebih dekat dengan ayah dan ibuku yang telah pergi mendahului aku. Bagiku, mereka itu seperti bintang yang selalu mengindahkan langit dengan cahaya mereka. Mereka itu terangku, aku percaya dan yakin akan hal itu bahwa itu benar.
Saat final kami di latih, dan saat instansi tersebut ingin mengumumkan siapa yang hendak berangkat. Namun, Nina malah membuat petaka dengan memukulku sampai babak belur. Dan salah seorang dari instansi tersebut mendiskualifikasikan diriku. Saat itu, aku merasa bahwa diriku sudah tidak berarti lagi. Aku akan jauh dari apa yang aku impikan yaitu dekat dengan mereka yang telah mendahului aku.
15 maret 2001, aku memutuskan untuk menjadi seorang pembantu rumah tangga dan sekolah tata karma agar memiliki sikap yang baik dan menjadi wanita seutuhnya. Saat 17 april di tahun yang sama, aku bertemu dengan seorang lelaki. Bagiku, dia tidak sempurna tetapi dia memiliki kemiripan denganku. Dia tau apa yang aku pikirkan dan kita ketemu dengan cara yang tidak di sengaja. Selang 3 bulan kami bertemu, kami menjalin suatu hubungan spesial. Saat itu, aku terlalu bodoh. Dia hanya mempermainkanku padahan apa yang aku miliki telah aku berikan untuknya. Hingga aku dikatakan positif mengandung anaknya. Saat itu, aku berpikir bahwa lelaki itu seperti pengecut yang hanya dapat menikmati dunia hingga kelebihan batas.
9 bulan 10 hari kemudian, akau melahirkan anakku. Jujur, sebenarnya aku berharap anakku lahir dengan keadaan memiliki orang tua yang lengkap. Namun, setelah ku pikir-pikir aku bisa menjadi ibu sekaligus ayahnya. Karena, masa laluku yang bisa dikatakan hancur lebur sudah. Setelah 2 minggu aku di rumah sakit, aku selalu bertanya pada susterku “kapan aku dapat pulang bersama putriku ?” namun jawab suster itu “ silahakn bertanya pada dokter sebab aku tidak mengetauhi apa yang terjadi denganmu “. Itu menjadi tanda Tanya besar.
Sore harinya, aku meminta untuk berbicara pada dokter yang merawatku. Lalu katanya mengejutkan aku, sebab di berkata aku berkelamin ganda. Maka setelah pemeriksaan intensif, dokter melihat bahwa hormone lelaki jauh lebih banyak pada diriku. Dan tim dokter memutuskan untuk mengangkat ovarium dan buah dadaku. Lalu aku akan menjalani serangkaian terapi dan meminum pil penumbuh hormone secara berkala. Sudah 3 bulan sudah aku menjalani hidup sebagai lelaki pasca oprasiku. Dan lebih fatalnya, aku kehilangan anakku saat oprasiku berlangsung. Para suster berkata, ayahnya telah mengambilnya. Sedangkan bagiku, dia lahir tanpa ayah. Apa yang telah suster – suster itu lakukan ? perasaaan itu hanya dapat ku pendam seorang diri.
Semenjak aku menjadi seorang lelaki, aku merasa bahwa masalahku itu lebih dari pada yang aku rasakan saat menjadi seorang wanita. Aku seakan di berikan 1001 tanggungan yang memberatkan hidupku. Yang membuatku terjerumus dalam kehidupan bebas. Aku selalu mendatangi club malam, melakukan kekerasan pada siapa saja. Aku merasa bahwa hidupku sudah tak berarti lagi.
Aku banyak membuat wanita menangis, dan hancur sama seperti hidupku di masa kelamku.

Tetapi, dengan mengalami hal itu, aku jadi mengerti saat aku menjadi seorang perempuan, aku selalu bertanya-tanya :mengappa, sebagai laki-laki, mereka tak menanggapi diri kita dengan perasaan lebih peka terutama saat aku ditinggalkan. Sebenarnya, kita membuat luka lebih dalam pada diri mereka sebagaimana yang telah aku alami. Saat aku menjadi wanita, aku menyalahkan lelaki dan menghina lelaki karena sikap mereka yang kasar dan bisa di bilang kurang ajar. Dan ternyata aku bukanlah satu-satunya yang merasa seperti itu. Saat aku menjadi seorang lelaku, aku berasa di tengah-tengah permasalahn itu sendiri. Lelaki melakukan kekerasan sebagai akibat kekerasan yang ditujukaan pada diri mereka sendiri dan kerap menanganggap hal itu bukan sebuah kesalahan, karena dengan melakukan hal itu akan memperlihatkan kecakapan emosional yang sebagian besar sudah lama ditiadakan atau di larang untuk diekspresikan.
Dan kurasa ini adalah awal dari kehidupan baruku yang penuh dengan pengertian

_Tamat_

2 comments:

  1. Thx, paragrafnya juga uda dirapihkan makanya bagus :)

    ReplyDelete
  2. sama - sama :)
    trima kasih untuk tanggapannya :)
    :)

    ReplyDelete